Kategori: z Headline

  • Profil Yusron Hadi, Kadispar NTB yang Asli Putra Lombok

    peloporberita.com/ | Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), baru saja menjalankan ritual Mandi Safar pada Rabu (06/10/2021). Mandi Safar adalah ritual yang dikenal dengan istilah ‘Rebo Bontong’ yang dilaksanakan rutin setiap tahun dibulan Safar (perhitungan kalender Islam). Ritual ini dipercaya akan membangkitkan pariwisata Lombok-Sumbawa, yang sebelumnya mati suri akibat pandemi Covid-19.

    Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi ikut serta dalam ritual tradisi Rebo Bontong di Gili Meno. Ia menilai tradisi Rebo Bontong merupakan aset budaya masyarakat Lombok. Budaya ini, jika dikemas menarik bisa menjadi atraksi unik yang layak jual selama masa pemulihan pariwisata NTB.

    Profil Yusron Hadi

    Mari kita mengenal sosok Yusron Hadi, Putra Lombok yang membesarkan pariwisata NTB.

    Yusron Hadi lahir di Lombok Timur, NTB, pada 11 Juni 1970. Ia memiliki seorang istri bernama Hj. Nurul Amalia dan seorang anak bernama Salsabila Rifda Afiya.

    Yusron meraih gelar Sarjana Tehnik (ST) Perencanaan Wilayah dan Kota di Malang pada 1995. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan S2 dan mendapatkan gelar Master of Urban Management (MUM) University of Canberra, Australia, pada tahun 2001.

    Tidak hanya pendidikan formal, Yusron sebagai seorang pengawai negeri sipil (PNS) juga menempuh pendidikan struktural, yaitu Diklat Pimpinan tingkat IV (2003), Diklat Pimpinan tingkat III (2011) dan Diklat Pimpinan tingkat II (2017).

    Yusron Hadi
    Kadispar NTB Yusron Hadi. (Foto :peloporberita.com/Dispar NTB)

    Sebelum menjadi Kepala Dinas Pariwisata NTB, ia menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB (2019-2021), setelah menjadi Kepala Biro Organisasi Setda NTB ( 2017-2019).

    Selama Yusron mengabdi sebagai PNS, cukup banyak pencapaian yang sudah ia raih, antara lain menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTB 2010-2030, memfasilitasi Juara 3 Nasional Anugerah Perencanaan Pembangunan Daerah bagi Provinsi skala menengah pada tahun 2013-2014, memfasilitasi Golden Award bagi Pemerintah Provinsi NTB dalam Pelayanan Publik dari Ombudsman RI 2018, dan memfasilitasi pembangunan Samsat Kapal Perikanan Provinsi NTB 2020.

    Yusron Hadi juga aktif mengikuti pelatihan di luar negeri, beberapa di antaranya The Optimal Site for Kobold Turbine (ICS Unido Trieste Italy, 2007), Port Management and Planning (Bremen-Germany 2009), Global Geopark Network Conference (Torkey UK, 2016) dan Study visit Ningxia Province (China, 2017). []

  • Sandiaga Uno: Masa Karantina Turis Asing Dikurangi Jadi 5 Hari

    peloporberita.com/ | Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Uno mengumumkan bahwa pemerintah akan mengurangi masa karantina penumpang penerbangan internasional dan wisatawan mancanegara (wisman), dari yang awalnya 8 hari, menjadi 5 hari. Keputusan ini diambil berdasarkan arahan dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) lewat rapat yang digelar, Kamis malam (07/10/2021).

    “Kami dapat umumkan untuk pertama kali Bapak Presiden menyampaikan arahan, kita juga sudah mendapatkan keyakinan dari Kementerian Kesehatan bahwa karantina diturunkan jadi 5 hari,” kata Sandi ketika ditemui wartawan di Kotagede, Yogyakarta, Jumat (08/10/2021), seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

    Baca juga: Sapta Nirwandar: WSBK Mandalika 3 Hari, Mesti Karantina 8 Hari Siapa yang Mau?

    Pemerintah memiliki sejumlah pertimbangan dalam mengambil keputusan ini, yang terutama adalah hitungan rata-rata harian masa inkubasi virus Covid-19 berdasarkan varian yang ada, kemudian meningkatnya cakupan vaksinasi, termasuk juga pencapaian testing dan tracing.

    “Berdasarkan data, inkubasi 3,7-3,8 rata-ratanya dan dengan peningkatan vaksinasi, testing, dan tracing, kami mendapatkan rekomendasi dan sudah diarahkan presiden jadi 5 hari,” ucap Sandi.

    Baca juga: Pengamat : Aturan Karantina 8 Hari Tidak Relevan dengan Ajang WSBK yang Hanya 3 Hari

    Meski demikian, Sandiaga menegaskan, kebijakan ini akan tetap dievaluasi setelah berjalan nanti. Ia juga menegaskan agar masa karantina 5 hari bagi wisman ini tetap bisa dipantau secara optimal.

    “Saya titip bahwa karantina itu memang menjadi benteng kita dan sebetulnya menjadi peluang pariwisata era baru bagi hotel-hotel menyediakan tempat karantina yang memiliki standar internasional yang layak,” tutur Sandiaga Uno.

    Sandi pun sempat terpikirkan membuat kebijakan masa karantina ini lebih nyaman dengan menyediakan resor khusus untuk para pelaku perjalanan luar negeri.

    “Kalau 5 hari bisa dibuat dalam 1 resor, misalnya saya terpikirnya ada 1 tempat didedikasikan jadi 1 tempat karantina. Di situ akan sangat memberikan suatu keleluasaan bagi wisatawan yang datang untuk selama 5 hari itu dipantau kesehatannya tapi tidak membahayakan bagi masyarakat sekitar,” kata Sandi. []

  • Lemonilo Pedas Korea, Mie Sehat yang Pedasnya Nampol

    peloporberita.com/ – Mie instan, kini dibuat lebih sehat dengan kehadiran Lemonilo, mie instan yang terbuat dari saripati sayuran dan bebas 3P (penguat rasa, pengawet, dan pewarna sintetis). Karena bahan-bahannya yang alami, Lemonilo enak dan nyaman untuk dimakan setiap hari.

    Salah satu varian Lemonilo yang banyak mendapat perhatian adalah Mie Lemonilo Pedas Korea. Sesuai dengan misi Lemonilo untuk menciptakan Indonesia yang lebih sehat dan generasi lebih hebat di masa depan, Mie Lemonilo Pedas Korea dibuat dengan bahan dan proses yang berbeda dari mie instan pada umumnya.

    Pembuatan produk ini telah melewati kurasi yang ketat untuk melindungi konsumen dari 100+ bahan berpotensi berbahaya yang menjadi standar sehat Lemonilo. Selain itu, Lemonilo sudah mengantongi sertifikat halal.

    Lemonilo pedas Korea
    Lemonilo pedas Korea.(Foto:Pelopor.id/Tantri)

    Dalam varian mie Lemonilo pedas korea, mie yang digunakan sama dengan mie di varian lainnya yakni berwarna hijau. Pembedanya adalah bumbu pedas khas Korea, kecap, bumbu gurih dan cabe bubuk.

    Lemonilo Pedas Korea dijual dengan harga Rp6.250 disitus resminya. Lemonilo Pedas Korea ini terbilang sangat pedas bagi yang tidak begitu suka pedas. Tetapi bagi para pecinta cabai, tingkat pedas yang disajikan Lemonilo cukup nampol.

    Lemonilo pedas Korea
    Lemonilo pedas Korea.(Foto:Pelopor.id/Tantri)

    Selain pedas nampol, Lemonilo pedan Korea memiliki sedikit rasa manis dan asam yang cukup kuat. Rasa asam inilah yang bikin sensasi pedas mi goreng Lemonilo cukup lengkap. Tetapi yang bikin para pecinta mie instan happy adalah bumbunya yang nggak pelit. Bumbu pedas khas korea yang diberikan dalam varian ini dirasa cukup untuk menyelimuti seluruh permukaan mi seberat 85 gram ini. []

  • Sandiaga Uno Setuju Adakan Konferensi Pers untuk Promosikan Tetebatu

    peloporberita.com/ – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno akan segera melakukan konferensi Pers untuk mempromosikan Desa Wisata Tetebatu dalam ajang Best Tourism Village UNWTO.

    Langkah ini merupakan saran dari Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) Sapta Nirwandar yang diungkapkan kepada peloporberita.com/, Rabu, 6 Oktober 2021.

    “Desa wisata kita punya keunikan dan kekhasan. Karena campuran alam, budaya, dan juga hospitality.”

    Dalam kesempatan itu, Sapta Nirwandar juga mengingatkan bahwa waktu yang dimiliki untuk mempromosikan Tetebatu tidak banyak, sebab pemenang dalam ajang internasional itu akan diumumkan antara tanggal 12 sampai 15 Oktober 2021 di Sidang Umum PBB.

    Sapta Nirwandar dan Sandiaga Uno
    Kolase foto Sapta Nirwandar dan Sandiaga Uno. (Foto:Pelopor.id/Ist)

    Sapta Sendiri mengungkapkan bahwa desa-desa wisata di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Inilah yang bisa ditonjolkan agar bisa menang dalam lomba tersebut.

    “Desa wisata kita punya keunikan dan kekhasan. Karena campuran alam, budaya, dan juga hospitality,” puji Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014.

    Saat dihubungi peloporberita.com/ melalui pesan singkat terkait saran Sapta Nirwandar ini, Menparekraf menjawab “setuju”, dengan demikian tidak akan lama lagi akan diselenggarakan Konferensi Pers untuk mempromosikan desa wisata Tetebatu.

    Tetebatu merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tetebatu dikenal pertama kali oleh masyarakat dunia berkat salah seorang wisatawan asal Belanda pada tahun 1965.

    Bangunan tempat tinggal wisatawan Belanda itu di Tetebatu kemudian menjadi tonggak berdirinya puluhan homestay lainnya di sekitar desa tersebut,

    Tempat tinggal yang disebut Pondok Soejono itu, menjadi motivasi pertama masyarakat desa mengembangkan Tetebatu menjadi desa wisata. Tetebatu, juga kini menjadi pusat akomodasi wisatawan asing yang singgah di Lombok Timur. []

  • Sapta Nirwandar Sarankan Menparekraf Bikin Pers Conference untuk Promosikan Tetebatu

    Pelopor,id – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 Sapta Nirwandar, menyarankan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno untuk membuat Pers Conference untuk mempromosikan desa-desa wisata yang mengikuti World Best Tourism Villages UNWTO. Salah satu desa wisata yang mewakili Indonesia dalam ajang itu adalah Tetebatu di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    “Jadi pariwisata itu bisa memberikan kebanggaan kepada masyarakat. Disamping kita bangga juga kalo ke desa Tetebatu itu, oh….. indah banget, oh….. keren.”

    Pasalnya waktu yang dimiliki untuk mempromosikan Tetebatu tidak banyak, sebab pemenang dalam ajang internasional itu akan diumumkan antara tanggal 12 sampai 15 Oktober 2021 di Sidang Umum PBB.

    Sapta Nirwandar
    Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar.(Foto:Pelopor.id/Ist)

    Saran ini dikemukakan Sapta lantaran menurutnya desa wisata Indonesia punya keunikan yang bisa menang dalam lomba tersebut.

    “Desa wisata kita punya ke ungkap dan kekhasan. Karena campuran alam, budaya, dan juga hospitality,” tutur Sapta Nirwandar dalam wawancara dengan peloporberita.com/, Rabu, 6 Oktober 2021.

    Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) ini, juga mengungkapkan bahwa sebelumnya Banyuwangi pernah memenangkan penghargaan sejenis yang diselenggarakan oleh UNWTO. Kala itu Banyuwangi menyabet gelar sebagai “The Winner of Re-Inventing Government in Tourism” dalam kategori UNWTO Awards for Innovation in Public Policy Governance atau Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan.

    “Banyuwangi dulu menang, dapat award dan dapat uang untuk promosi,” sebutnya.

    Sapta Nirwandar juga menegaskan, dengan mengikuti lomba global desa wisata dapat memberikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat, apalagi apabila Tetebatu bisa keluar sebagai pemenangnya.

    “Jadi pariwisata itu bisa memberikan kebanggaan kepada masyarakat. Disamping kita bangga juga kalo ke desa Tetebatu itu, oh….. indah banget, oh….. keren,” tandas Sapta. []

  • Bom Mother of Satan Ditemukan 7 Kilometer dari Pemukiman Warga Gunung Ceremai

    peloporberita.com/ – Tim Densus 88 Antiteror dan Brimob Polda Jabar menemukan bahan peledak di Gunung Ciremai, Kabupaten Majalengka. Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Erdi A. Chaniago menerangkan bahwa bahan peledak yang ditemukan  itu hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari permukiman warga.

    “Jadi kita ledakkan kembali untuk mengamankan karena ini sangat berbahaya jika digunakan teroris.”

    Menurutnya, bahan peledak yang memiliki daya ledak tinggi berjuluk ‘Mother of Satan’ seberat 35 Kilogram itu masih aktif saat ditemukan oleh petugas. Namun kini, bahan peledak itu sudah didisposal hingga nonaktif.

    “Bom tersebut dalam kondisi utuh dan aktif, dalam artian itu bisa diaktifkan saat ditemukan,” tutur Kabidhumas di Polda Jawa Barat berdasarkan keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 7 Oktober 2021.

    Kabidhumas menjelaskan, sebagian dari bahan peledak itu sempat diledakkan di lokasi penemuan oleh pihak Kepolisian guna mengukur seberapa daya eksplosif bahan tersebut. Hasilnya, bahan peledak itu berdaya ledak kuat dan cukup mengkhawatirkan apabila tidak segera ditangani petugas.

    “Dengan sedikit saja, ternyata itu dapat mengakibatkan suatu getaran yang sangat kuat. Nah sisanya bahan peledak itu dibawa ke Brimob untuk dilakukan disposal,” tegasnya.

    Kemudian di Markas Komando Brimob Polda Jawa Barat, para petugas meledakkan kembali bahan peledak itu agar tidak tersisa setelah diurai.

    “Jadi kita ledakkan kembali untuk mengamankan karena ini sangat berbahaya jika digunakan teroris,” tandas Kabidhumas.

    Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Erdi A. Chaniago
    Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Erdi A. Chaniago. (Foto:Pelopor.id/Polri)

    Meski sudah ditemukan, Tim Densus 88 Antiteror akan terus mengembangkan penemuan tersebut guna mencari potensi adanya hal serupa.

    “Tapi diharapkan tidak ada lagi, karena ini sangat membahayakan jika kita menemukan seperti itu lagi, daya ledaknya tinggi, sangat mengkhawatirkan,” sebutnya.

    Mother of Satan itu, diketahui milik narapidana kasus terorisme Imam Mulyana. Dia mengaku tidak menyangka bahan peledak berjenis Triperoxide (TATP) itu memiliki daya ledak yang besar.

    Imam yang ditangkap pada 2017 baru mengaku kepada aparat bahwa dirinya masih menyimpan bom seberat 35 kilogram di sekitar gunung itu pada 2021.[]

  • Polisi Amankan Tiga Remaja Pembuat Tembakau Sintetis

    peloporberita.com/ | Satuan Reserse Narkoba Polres Bogor, Polda Jawa Barat, menangkap tiga remaja usia 19 tahun berinisial RAM, WR, dan RAP yang merupakan pemilik industri rumahan, sekaligus pembuat tembakau sintetis. Aksi yang dilakukan ketiga remaja ini masuk dalam kategori penyalahgunaan narkoba.

    “Tiga tersangka satu komplotan, RAM berprofesi sebagai sales apartemen, WR dan RAP karyawan sablon. Mereka sudah dua tahun menjalankan home industry tembakau sintetis,” ungkap Kapolres Bogor AKBP Harun, saat konferensi pers pengungkapan kasus narkoba di Mapolres, Cibinong, Bogor, Selasa (05/10/2021).

    Baca juga: Bereskrim Polri Tangkap Investor 2 Pabrik Obat Keras Ilegal di Yogyakarta

    Harun mengatakan, tiga remaja itu ditangkap di daerah Sariwangi, Bandung. Hasil dari pemeriksaan, mereka sudah dua tahun mengontrak sebuah rumah di Permata Arcamanik, Desa Sukamiskin, Bandung, yang dijadikan sebagai tempat pengolahan. “Produk ini mereka sebar ke beberapa wilayah di Jawa Barat seperti Garut, Bandung, Cirebon, Cianjur, dan Depok,” ucap Harun.

    Baca juga: Polisi Gagalkan Upaya Penyelundupan Narkoba dalam Kotak Beras

    Tiga tersangka itu memasarkan hasil olahan tembakau sintetis melalui media sosial Instagram. Serupa dengan enam perkara tembakau sintetis sebelumnya yang diungkap oleh Polres Bogor. Pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan dari pengungkapan kasus sebelumnya. “Pengirimannya sama persis seperti enam perkara sebelumnya, dengan mengirim, diselipkan dengan pemesanan barang lain. Kemudian pakai alumunium foil,” jelas Kapolres Harun.

    Polres Bogor menyita berbagai barang bukti dari ketiga tersangka, yaitu 14 bungkus biang tembakau sintetis seberat 286 gram, satu dus besar plastik besar berisi tembakau seberat 10 kilogram, satu mesin pengaduk tembakau sintetis, dua alat timbangan, dan lain-lain. “Seluruh total yang berhasil kita amankan 23,74 kilogram biang tembakau sintetis, dan tembakau gorila 19 kilogram,” kata Kapolres Bogor AKBP Harun. []

  • Sapta Nirwandar: WSBK Mandalika 3 Hari, Mesti Karantina 8 Hari Siapa yang Mau?

    peloporberita.com/ | Jakarta – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014, Sapta Nirwandar mengatakan, aturan wajib karantina selama 8 hari bagi wisatawan mancanegara akan mengurangi minat masyarakat Internasional untuk menonton event World Superbike (WSBK) yang hanya berlangsung 3 hari mulai 19 sampai 21 November 2021 di Sirkuit Mandalika-Lombok Tengah.

    “Siapa yang mau acaranya 3 hari di karantina 8 hari apalagi dengan biaya sendiri,” tuturnya saat diwawancarai, peloporberita.com/ Rabu, 6 Oktober 2021.

    “Terus ada yang kayak Turki, itu yang penting sudah PCR, sudah vaksin ya masuk. Kecuali kalau di tes dia positif ya di karantina.”

    Menurut Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), aturan karantina selama 8 hari memang yang menjadi tantangan.

    “Indonesia kenapa ngambil 8 hari, alasannya supaya aman, tapi memang betul setiap orang yang conference 3 hari kan nggak mungkin dia karantina 8 hari. Kan berarti dia harus stay 11 hari,” ungkapnya.

    Meski demikian, Sapta mengakui bahwa dirinya bukan dokter dan tidak memiliki kompetensi di bidang kesehatan. Tetapi, bila dibandingkan dengan beberapa negara memang waktu 8 hari agak lama. Adapun di sejumlah negara, karantina hanya dilakukan selama 3 hari seperti Kanada apabila yang bersangkutan sudah divaksin serta di tes PCR.

    WSBK

    “Kalau vaksinnya jenis tertentu, itu ga pakai karantina. Terus ada yang kayak Turki, itu yang penting sudah PCR, sudah vaksin ya masuk. Kecuali kalau di tes dia positif ya di karantina.

    Sapta berpendapat, aturan karantina selama 8 hari ini menghambat atau mengurangi wisatawan datang ke Indonesia. Apalagi kalau setelah mereka pulang harus dikenakan lagi karantina yang sama di negaranya seperti Australia.

    “Tapi kalo pragmatic seperti Turki, Kanada, Amerika Serikat bahkan juga ada beberapa negara itu relatif pendek dan kedua dia kalo sudah vaksin dan PCR dia bebasin,” pungkasnya.

    Taufan Rahmadi
    Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Global Tourism Forum)

    Sementara dalam wawancara terpisah, Pengamat sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi menilai, aturan karantina 8 hari yang diberlakukan pemerintah untuk wisatawan internasional tidak relevan. Sebab pelaksanaan event World Superbike WSBK hanya berlangsung 3 hari saja.

    “Dengan adanya PCR, saya rasa itu sudah menjadi jaminan bahwa protokol kesehatan itu sudah dilaksanakan. Kembali, ketentuan tentang karantina 8 hari harus ditinjau ulang,” sebut TR panggilan akrabnya.

    Yusron Hadi
    Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi. (Foto:Pelopor.id/Tribun)

    Harapan yang sama juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi. Ia berharap kebijakan itu bisa ditinjau kembali. Karena pada prinsipnya, tingkat vaksinasi oleh Pemerintah Provinsi TNI-Polri dan sebagainya sudah menunjukkan hasil yang bagus.

    “Vaksin pada hari ini di Lombok Tengah sudah 70% lebih. Kemudian Mataram sudah 80%,” sebut Yusron. []

  • Pengamat : Aturan Karantina 8 Hari Tidak Relevan dengan Ajang WSBK yang Hanya 3 Hari

    peloporberita.com/ | Jakarta – Pengamat sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi,  menganggap aturan karantina 8 hari yang diberlakukan pemerintah untuk wisatawan internasional tidak relevan. Sebab pelaksanaan event World Superbike WSBK hanya berlangsung 3 hari saja yakni mulai 19-21 November 2021 di Sirkuit Mandalika-Lombok Tengah.

    “Dengan adanya PCR, saya rasa itu sudah menjadi jaminan bahwa protokol kesehatan itu sudah dilaksanakan. Kembali, ketentuan tentang karantina 8 hari harus ditinjau ulang.”

    "Sudah saatnya ditinjau kembali ketentuan tentang karantina 8 hari. Ini harus ditinjau ulang, mengingat bahwa sesuai dengan arahan bpk presiden dan WHO kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengan covid-19," tutur TR panggilan akrabnya kepada peloporberita.com/, Rabu, 6 Oktober 2021.

    Taufan Rahmadi

    Sebelumnya, Pemerintah menyebutkan bahwa Bandara Ngurah Rai Bali akan dibuka untuk internasional pada tanggal 14 Oktober 2021 dengan persyaratan mengenai karantina, test, dan kesiapan satgas. Adapun setiap penumpang kedatangan internasional harus punya bukti booking hotel untuk karantina minimal 8 hari dengan biaya sendiri.

    Sementara menurut Pengamat, tes PCR sudah menjadi jaminan bahwa protokol kesehatan sudah dijalankan.

    “Dengan adanya PCR, saya rasa itu sudah menjadi jaminan bahwa protokol kesehatan itu sudah dilaksanakan. Kembali, ketentuan tentang karantina 8 hari harus ditinjau ulang,” tegasnya.

    Saat Rakor Sekretariat Dewan KEK Mandalika, Taufan Rahmadi juga sempat menyinggung soal kuota tiket untuk WSBK. Menurutnya, hingga saat ini masih belum ditentukan berapa jumlah kuota dan pola pendistribusiannya. Padahal event WSBK tinggal menghitung hari.

    ”Itu belum bisa dipastikan oleh ITDC maupun MGPA,” ucap Taufan. []