Kategori: Cerita

  • Ikatan Alumni Stikosa-AWS Gelar Bedah Buku “Ryan, Transformasi Sang Jagal Jombang”

    Jakarta – Ikatan Alumni Stikosa (IKA) Stikosa-AWS menggelar Bedah buku ‘Ryan, Transformasi Sang Jagal Jombang pada Rabu (20/04/2022) sore di ruang Multimedia, Stikosa AWS. Buku yang ditulis oleh Doan Widhiandono dan Noor Arief Prasetyo itu, bercerita tentang sisi lain kehidupan Ryan, pasca ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan 10 korban yang ditemukan dan dikubur di rumahnya desa Tembelang, Jombang, dan 1 pembunuhan berencana di Bekasi tahun 2008-2009.

    Ketua Stikosa AWS Meithiana Indrasari menjelaskan, rangkaian acara ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi terhadap buku yang ditulis oleh salah satu alumni Stikosa-AWS. Menurut Meithiana, menjadi penulis buku adalah level yang lebih tinggi dari wartawan dan peluang untuk memilih karir.

    “Sekilas buku ini tentang pertobatan Ryan, setelah melakukan perbuatan yang begitu kejam. Termasuk latar belakang pembentukan jiwa Ryan saat masa kanak-kanak,” tutur Meithiana berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Rabu, (20/04/2022).

    Sementara Noor Arif, salah satu penuilis yang juga alumni Stikosa AWS tahun 2004 tersebut memaparkan, proses pembuatan buku kedua yang ia tulis ini berasal dari serial liputan di harian Disway yang ia garap bersama rekannya Doan Widhiandono.

    Dalam proses penggarapan buku ini, selain melakukan wawancara langsung dengan Ryan dan Ibunya, Arif dan Doan juga menggabungkan dengan kumpulan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi-saksi kasus penjagalan yang dilakukan Ryan.

    “Buku ini digarap dari hasil liputan dan keterangan saksi-saksi dalam kasus yang menjerat Ryan. Sudut pandang kehidupan Ryan dikupas tuntas di buku ini termasuk Ryan yang akan diwisuda menjadi Hafidz Al Quran,” ungkap Noor Arief yang juga dosen di KJJT (Komunitas Jurnalis Jawa Timur).

    [irp]

    Bedah Buku “Ryan, Transformasi Sang Jagal Jombang”
    Dari kiri Moderator Eko Pamudi, Noor Arief Prasetyo sedang memberi materi, dan Doan Widhiandono. (Foto: humas Stikosa AWS).

    Sementara Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Eko Pamuji menegaskan, buku ini wajib menjadi salah satu referensi untuk mahasiswa ataupun jurnalis pemula yang hendak terjun serius ke dunia kewartaan.

    Menurutnya, apa yang ditulis oleh dua wartawan senior Disway tersebut merupakan karya jurnalis yang indah. Selain menyajikan fakta yang tidak banyak diketahui orang, teknik penulisan menjadi alasan.

    “Inilah hasil karya jurnalis karena dengan membaca buku ini akan mendapatkan dua hal penting. Dapat satu konten artinya Isinya luar biasa memang. Kedua, bagaimana kalimat itu terangkai dengan baik. Alinea alinea dibuat dengan baik itu yang harus dipelajari oleh wartawan muda saat ini,” tegas Eko.

    Acara yang berlangsung selama 90 menit ini dihadiri oleh ratusan peserta dari mahasiswa, alumni dan masyarakat umum yang hadir maupun menyaksikan lewat zoom meeting termasuk Founder Harian Disway, Dahlan Iskan.

    Ryan Jombang
    Ryan Jombang. (Foto: SS Youtube Uncle Joel)

    Ryan Jombang memiliki nama asli Very Idham Henyansyah. Ia lahir pada 1 Februari 1978 dan merupakan seorang pelaku pembunuhan berantai. Kasusnya mulai terungkap setelah penemuan mayat termutilasi dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan pada Sabtu pagi tanggal 12 Juli 2008.

    Korban adalah manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta bernama Heri Santoso (40). Heri dibunuh dan dimutilasi tubuhnya oleh Ryan di sebuah apartemen di Jalan Margonda Raya, Depok. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, terungkap bahwa Ryan telah melakukan beberapa pembunuhan lainnya dan dia mengubur para korban di halaman belakang rumahnya di Jombang. []

    [irp]

  • Kisah Desa Paciran yang Dijuluki Kampung Rajungan

    peloporberita.com/ – Kampung Rajungan adalah nama populer dari Desa Paciran, yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Sebutan Paciran sebagai Kampung Rajungan lantaran sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan rajungan.

    Tercatat ada 1.142 nelayan tergabung ke dalam tujuh Kelompok Usaha Bersama (KUB). Tak ayal, produksi rajungan di wilayah tersebut mampu menggerakkan ekonomi desa, bahkan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

    Setiap tahunnya, rata-rata hasil tangkapan rajungan mereka mencapai 389.250 kg dengan taksiran nilai produksi lebih dari Rp46 miliar. Bahkan rajungan dari daerah ini berhasil menembus pasar ekspor, terutama Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan.

    Kesuksesan ini, antara lain berkat kegiatan hilirisasi usaha rajungan sudah berjalan aktif. Setidaknya terdapat 9 Unit Pengolahan Ikan (UPI) berskala mikro dan kecil atau disebut miniplant dan telah tergabung ke dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Gampang Rukun dan Poklahsar Persaudaraan Ibu Nelayan (PIN).

    Unit Pengolahan Ikan berhasil menyerap tenaga kerja yang berasal dari masyarakat setempat yang kebanyakan istri nelayan dengan rata-rata 10 sampai 80 orang pekerja per miniplant. Khusus untuk Poklahsar, seorang penyuluh perikanan bernama Toha Muslih (45 tahun) siap membantu memberikan pendampingan legalitas perizinan usaha seperti Nomor Induk Berusaha, Pangan Industri Rumah Tangga, dan Halal Majelis Ulama Indonesia.

    Plt. Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kusdiantoro mengatakan, pengembangan SDM di kampung tersebut sebagai dukungan terhadap program prioritas yang menjadi terobosan KKP. Salah satunya, pembangunan kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal.

    Terkait hal ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya pernah menyebutkan tiga kategori kampung, yaitu kampung perikanan budidaya pedalaman untuk komoditas air tawar; kampung perikanan budidaya pesisir untuk komoditas payau; serta kampung perikanan budidaya laut.

    Pada rapat kerja dengan Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, 18 Januari 2022, Menteri Trenggono menjelaskan bahwa pembangunan kampung perikanan merupakan salah satu program yang akan diakselerasi pada tahun 2022.

    Kisah Desa Paciran yang Dijuluki Kampung Rajungan
    Kisah Desa Paciran yang Dijuluki Kampung Rajungan. (Foto:Pelopor.id/KKP)

    Menurutnya, pembangunan tersebut bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dan mendorong pembangunan di berbagai daerah. Nah, hal ini salah satunya di Paciran. Dimana kesejahteraan yang dirasakan nelayan Paciran tentunya tak lepas dari kiprah penyuluh perikanan yang sehari-hari mendampinginya.

    Masih jelas di memori Toha masih ia pertama kali ditugaskan menjadi menyuluh di Desa Paciran pada 2011 silam. Saat itu, kehidupan nelayan di sana begitu pas-pasan dengan hasil tangkapan yang minim.

    "Saya melihat potensi rajungan yang besar, sayangnya masyarakat masih hidup secara individu. Mereka akan besar jika memiliki kelembagaan sendiri. Untuk itu, saya berinisiatif membentuk kelompok sebagai wadah usaha nelayan," ungkap Toha berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/ dari KKP yang dikutip Selasa, (22/02/2022).

    Adapun pendekatan kelompok melalui KUB merupakan strategi pemberdayan masyarakat pesisir yang efektif. Manfaat yang dirasakan lebih besar bagi anggota karena dapat meningkatkan kemampuan usaha, akses permodalan, pemasaran, dan mengakses program pemerintah ataupun Corparate Social Responsibility dari perusahaan.

    Sebagai penyuluh pendamping, Toha pastinya aktif menyuarakan alat tangkap yang ramah lingkungan, khususnya bubu lipat untuk menangkap rajungan. Ia juga gencar menyosialisasikan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting dan Rajungan di wilayah Republik Indonesia agar terjaga keberlanjutannya di alam.

    Selain itu, ia juga membekali warga dengan teknik penangkapan dan penanganan rajungan yang baik. Sehingga rajungan yang dihasilkan nelayan memiliki kualitas terbaik dan berharga tinggi.

    “Dulu sekilo rajungan cuma dihargai 40.000 sampai 60.000 rupiah, sekarang dengan kualitas yang lebih baik harganya naik jadi 120.000 sampai 130.000 rupiah per kilogram,” ungkap Ketua KUB Kelopo Kembar, Tsabit, salah satu nelayan binaan Toha.

    Menariknya, kini nelayan Paciran mampu memanfaatkan alat bantu penangkapan seperti GPS, aplikasi perkiraan cuaca berbasis smartphone, dan mesin penarik jaring (gardan). Sebelumnya, nelayan hanya mampu berlayar 8 sampai 10 mil dengan bubu yang dibawa 200-300 unit saja per kapal.

    Setelah ada teknologi penangkapan, nelayan mampu menempuh lokasi fishing ground sampai 30 mil dengan bubu sebanyak 400-600 unit per kapal. Hasilnya, produktivitas tangkapan rajungan meningkat.

    KUB yang dibina Toha, setiap tahunnya mendapat bantuan dari pemerintah, seperti 1.000 unit bubu rajungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur dan 10 unit GPS dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lamongan.

    Selain itu, mereka juga mendapatkan akses pinjaman dengan bunga ringan lewat BLU LPMUKP KKP juga telah diraih kedua KUB binaannya dengan nominal Rp500 juta di tahun 2020. Nelayan juga tak lagi risau memasarkan rajungan tangkapannya, sebab pada tahun 2021 ada kerja sama antara kelompok binaan dengan Aruna, startup pemasaran perikanan digital. Sehingga lebih menguntungkan lantaran harga jual rajungannya lebih kompetitif.

    Pada tahun 2021, Desa Paciran telah ditetapkan sebagai Desa Inovasi/Desa Mitra BRSDM. Berbagai kolaborasi kegiatan penyuluhan bersama pemerintah daerah dilakukan. Salah satunya adalah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi penangkapan rajungan hingga pengolahan dan pemasaran produk rajungan, terasi, kerupuk cumi, dan pindang layang. []

  • Peluncuran Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono, Kumpulan 38 Sketsa Sejarah

    peloporberita.com/ |Jakarta – Tumurun Museum di Solo meluncurkan buku Sultan Agung dalam goresan S. Sudjojono pada Sabtu, 22 Januari 2022. Peluncuran buku “Sultan Agung karya S. Sudjojono” merupakan  puncak rangkaian acara pameran Mukti Negeriku! Perjuangan Sultan Agung melalui Goresan S. Sudjojono, yang diselenggarakan dari 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022.

    Wali kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka berkesempatan memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku ini, yang didampingi Iwan K. Lukminto dan Jusuf Wanandi, selaku perwakilan dari S. Sudjojono Center.

    Buku yang diluncurkan mengupas lengkap latar belakang, makna, nilai dan konteks sejarah salah satu mahakarya S Sudjojono “Sejarah Perjuangan Sultan Agung” (1974), koleksi Museum Sejarah Jakarta, dan juga 38 sketsa studi yang dibuat S. Sudjojono dalam mempersiapkan pembuatan lukisan tersebut, koleksi Tumurun Museum.

    Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono.
    Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono. (Foto: Pelopor/Tumurun Museum).

    Baca juga:

    Buku setebal 138 halaman ini diterbitkan dalam format hardcover dan softcover oleh Kepustakaan Populer Gramedia atas kerja sama dengan Tumurun Museum dan S. Sudjojono Center.

    Hal penting yang belum pernah ada pada buku mengenai seniman S. Sudjojono sebelumnya, yaitu temuan dan analisa mengenai lukisan dan ke-38 sketsa “Sejarah Perjuangan Sultan Agung” yang digadangkan menjadi bahan pendukung pendaftaran dan penetapan lukisan dan sketsa-sketsa tersebut menjadi Cagar Budaya Nasional sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

    Dalam buku ini juga diuraikan mengenai riset mendalam S. Sudjojono dalam persiapannya membuat orang-orang di sekitarnya—benda-benda pusaka, dan bentuk, desain serta warna panji-panji pasukan Kesultanan Mataram Islam. Sudjojono mendapatkan referensi mengenai panji-panji Jawa dari buku yang diberikan oleh Pemda DKI berjudul “History of Java” oleh Thomas Stamford Raffles, 1812.

    Buku ini ditutup dengan pembahasan mengenai lukisan Sultan Agung sebagai perwujudan sikap dan semangat nasionalisme S. Sudjojono yang penting untuk digunakan sebagai cara untuk terus digaungkan keseluruh generasi muda Indonesia.

    Nilai-nilai nasionalisme ini adalah sesuatu yang terus diperjuangkan oleh seniman S. Sudjojono sejak 1930-an melalui karya-karya dan tulisan-tulisannya dan mencapai puncaknya pada lukisan ini. Maka tidaklah mengherankan jika lukisan ini direkomendasikan untuk ditetapkan menjadi Cagar Budaya Nasional, mengingat lukisan ini telah memenuhi tiga syarat dalam Pasal 42 Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yaitu: (a) wujud kesatuan dan persatuan bangsa, karena lukisan ini menggambarkan persatuan dari berbagai wilayah/suku bangsa untuk bertempur melawan VOC di bawah pimpinan Mataram; (b) karya adiluhung yang mencerminkan kekhasan kebudayaan bangsa Indonesia, karena lukisan ini dibuat oleh salah satu pelukis realis ekspresionis yang juga mengembangkan seni lukis modern Indonesia; dan (c) cagar budaya yang sangat langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di Indonesia, karena lukisan ini berukuran sangat besar dan menyimpan cerita sejarah penting bagi Jakarta.

    Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono.
    Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono. (Foto: Pelopor/Tumurun Museum).

    Sebagai bagian dari rangkaian acara peluncuran buku selanjutnya, pada 23 Januari 2022 akan diadakan workshop sketsa dalam rangka merespon lukisan dan sketsa “Sejarah Perjuangan Sultan Agung” karya seniman S. Sudjojono, yang diberi judul Sketch Like Sudjojono. Acara workshop ini dipandu oleh Jevi Alba, seniman sketsa dari salah satu komunitas lukis di kota Solo. Acara workshop ini bekerja sama dengan Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dan Kompas Gramedia.

    Lukisan tersebut yang dituangkannya dalam ke-38 sketsa studi. Buku ini menelusuri hasil riset, kunjungan ke museum dan institusi di Indonesia maupun Belanda, wawancara narasumber dan pembacaan buku sejarah serta pemikiran, pertanyaan dan berbagai tantangan yang dihadapi Sudjojono dalam proses  pembuatan yang dituangkannya dalam ke sketsa-sketsa tersebut.

    Salah satu contoh risetnya terlihat dalam penggambaran sketsa-sketsa yang secara khusus mengeksplorasi cara berpakaian, posisi duduk, posisi tangan, dan suasana singgasana Sultan Agung.[]

    Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono.
    Buku Sultan Agung dalam Goresan S. Sudjojono. (Foto: Pelopor/Tumurun Museum).
  • Kisah Warga Serang Dikentutin Dedemit Saat Hendak Pulang ke Rumah

    peloporberita.com/ – Seorang warga Serang Banten bernama Iyan Saputra, menceritakan pengalamannya bertemu sosok gaib yang ulahnya bikin geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, Mahluk tersebut menjahilinya dengan kentut persis di hadapan Iyan.

    “Bukan Pocong atau Kuntilanak, tapi semacam dedemit. Agak pendek kalao jalan ngga tegak agak membungkuk.”

    “Kejadian dua tahun yang lalu, pulang dari main, begadang malam jumat tepatnya jam setengah 2 malam. Lagi lewat pulang malem ngga perasaan apa-apa sih, pas lewat langsung dikentutin pas di depan muka, anginnya kerasa, kentutnya kerasa,” tutur Iyan saat diwawancara peloporberita.com/, Selasa, (4/1/2022)

    Menurut Iyan, yang menjahilinya saat ia hendak pulang ke rumahnya yang berada di Kebon Sawo, Kelurahan Cimuncang, Serang, Banten bukan pocong atau kuntilanak, melainkan dedemit.

    “Ngeliatin wujudnya, cuma ngebayang. Bukan Pocong atau Kuntilanak, tapi semacam dedemit. Agak pendek kalao jalan ngga tegak agak membungkuk. Bentuknya kayak manusia tapi jalanannya kayak gorila/ kayak orangutan,” ungkapnya.

    Beruntung, Iyan merupakan orang pemberani, sehingga kejadian itu tidak lantas membuatnya takut, malah membuatnya marah. Sehingga ia pun menantang balik mahluk gaib yang usil tersebut.

    “Dia naek ke atas pohon gue tantang, lu turun kalo berani, abis ngentutin gue tantang karena jengkel dikentutin pas depan muka gue. Kayak monyet kepalanye botak,” tandas Iyan mengungkapkan kekesalannya. []

  • Santet ini Digunakan Agar Pasangan Tidak Selingkuh

    peloporberita.com/ – Ilmu hitam dipercaya masih banyak digunakan oleh orang Indonesia untuk melakukan kejahatan. Salah satu ilmu hitam tersebut adalah Santet yang tentunya tidak asing lagi di telinga kita.

    Orang yang terkena santet, umumnya akan menderita selama hidupnya bahkan bisa berakhir hingga kematian. Santet kerap digunakan untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh.

    Biasanya, Santet diaplikasikan melalui berbagai media seperti foto korban, boneka atau calon korban rambut. Ilmu Santet, kebanyakan dilakukan dengan alasan dendam atau karena sakit hati kepada orang lain.

    Tetapi ada juga ilmu santet yang tujuannya agar pasangan tidak bisa berselingkuh atau bersetubuh dengan orang lain yakni Santet/Teluh Banyuwangi. Dikutip dari berbagai sumber, jenis santet yang tergolong ganas ini, umumnya menyasar keperkasaan pria.

    Santet Banyuwangi merupakan perpaduan alam pikiran bawah sadar dan jin yg membuat target dikunci kelaminnya. Melalui santet ini, kejantanan pria dibuat akan mati lemas dan tidak bisa berdiri atau hanya bisa digunakan untuk sang pemesan.

    Intinya, santet jenis ini biasa dipesan seorang agar pasangannya tidak bisa berselingkuh atau bersetubuh dengan orang lain selain pelakunya. Jenis santet ini, digunakan untuk suami hidung belang maupun perempuan yang ingin merusak hubungan rumah tangga orang lain.

    Banyuwangi sendiri kerap dijuluki sebagai Kota Santet, penyebabnya pada 1998 ratusan orang tewas dengan cara sadis. Ada yang dipenggal, diarak keliling kota karena dianggep dukun santet. Peristiwa ini, dikenal luas oleh masyarakat sebagai ‘Tragedi Santet’.[]

  • Ternyata Menko Airlangga Lakukan ini Saat Weekend

    peloporberita.com/ – Airlangga Hartarto, saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia juga Ketua Umum Partai Golkar. Jabatan yang diemban Menko Airlangga, tentu saja membuatnya super sibuk. Namun di balik keseibukannya, Airlangga Hartarto ternyata menghabiskan weekend hanya untuk buah hatinya.

    “Saya pun kerap mendengar curhat dan kritisisme anak-anak yang bikin kita sebagai orang tua senyum-senyum mendengarnya.”

    “Kalau kata mereka, ‘weekend bersama Bapak’. Ngobrol dan mendengar cerita anak-anak merupakan hal membahagiakan. Sepadat apapun, saya sempatkan dan ikhtiarkan untuk duduk dan ngobrol bareng bersama mereka,” tutur Menko Airlangga di akun Twitter pribadinya, Minggu, (19/12/2021) siang.

    Menko Airlangga menceritakan, bahwa anak-anaknya biasa bercerita tentang sekolah. Tak jarang juga mereka mengungkapkan aktivitas di masa pandemi, seperti nonton film atau bacaan yang menarik bagi mereka, termasuk musik yang sedang mereka dengar.

    “Bahkan, saya pun kerap mendengar curhat dan kritisisme anak-anak yang bikin kita sebagai orang tua senyum-senyum mendengarnya. Seringkali pertemuan dengan mereka memberikan kesegaran dan semangat baru bagi saya. Saya yakin anda yang sudah menjadi orang tua merasakan hal yang sama,” ungkapnya dalam tweet yang lain.

    Diakhir unggahannya, Menko Airlangga mengucapkan selamat berakhir pekan, dan menikmati waktu bersama keluarga. []

  • Pameran Seni Rupa Kontemporer Karya Guo Peng

    peloporberita.com/ | Jakarta – Yun Artified Community Art Center kembali mengadakan pameran seni rupa kontemporer,kali ini menghadirkan karya-karya seniman Guo Peng, yang bertemakan “INK TRANSFORM”. Pameran ini dijadwalkan mulai tanggal 20 November 2021, dan berakhir pada 19 Desember 2021.

    Dalam proses berkarya, seniman Guo Peng mengeksplorasi sisi kreativitasnya dengan menghasilkan karya-karya yang syarat dengan nilai oriental tradisional yang ia warisi namun tetap mengikuti konteks global dengan menyajikan unsur-unsur karya visual kontemporer. Karya-karya yang dihasilkan oleh seniman Guo Peng berisikan gabungan unsur multikultur Asia, yang terlihat pada karyanya ketika menggambarkan lansekap kehidupan lokal atau bentuk modern di Kota besar.

    Dalam perjalanan dirinya, seniman Guo Peng telah mengalami perubahan cara pandang terhadap politik, sosial dan budaya. Dengan perubahan yang dialami oleh dirinya dalam kehidupan nyata, hal ini terlihat dari cara ia mengeksplorasi bentuk Bahasa lukisannya, terlihat jelas jika ia memiliki perubahan karakteristik spiritual.

    Kurator pameran, Dr. Lim Poh Teck, Art Critics, Curator Peking University President, Nanyang Academy of Fine Arts Alumni Association dalam catatan kuratorialnya menjelaskan “Lukisan Guo Peng menunjukkan kognisi tradisi Asia Tenggara dalam bentuk kehidupan modern yang merupakan cermin kehidupan, budaya dan emosinya.

    Jika dilihat dari cara bereksplorasi artistiknya, Guo Peng menerjemahkan konsep lukisan dari lanskap kehidupan tradisional, kemudian secara bertahap menuju kedalam bentuk penciptaan yang memadukan Bahasa seni Timur dan Barat, mengeksplorasi perpaduan tradisional dan modern.

    Pameran Lukisan Guo Peng.
    Pameran Lukisan Guo Peng selama sebulan (19 November-20 Desember 2021). (Foto: Pelopor/Yun Artified Community Art Center).

    Selain itu, makna mendalam dari eksplorasi yang ia lakukan adalah ketika menafsirkan karakteristik budaya peradaban kuno Asia Tenggara, hal ini lah yang disebut dengan Bahasa INK yang ditampilkan oleh Guo Peng dalam eksplorasi Lukisannya. Ink Transform merupakan spirit INK yang terpancar dari lubuk hati Guo Peng.

    Pada pameran ini salah satu karya “Vine” merupakan karya yang mengungkapkan suasana hati dan pikiran Guo Peng dalam proses penciptaan, ia berharap dapat membangun “ruang”dalam karya ini melalui eksplorasi “INK” nya. Melalui karya ini, ia mencoba mengekspresikan individualitas dan kebebasan ideologi dari bentuk Bahasa lukisan yang dibuat.

    Karya abstrak lanskap yang dibuat dengan Teknik freehand, menggambarkan “skenario” yaitu kehidupan local, sedangkan sapuan kuasnya (stroke) menafsirkan harapan dan emosi dalam kehidupan. Karya Lanskap yang diungkapkan dalam pameran Ink Transform ini juga merupakan “image” dalam pikiran Guo Peng, ia mengeksplorasi “artistic conception” dalam lukisannya.

    Seri lukisan Guo Peng yang ditampilkan kali ini merupakan karya yang menunjukan kepeduliannya terhadap alam dan ruang.  Tema penciptaan menunjukan gambaran kehidupan yang beragam, karya “imaginary of landscape” menjelaskan hubungan antara INK (tinta) dan ruang, dan menunjukan kekayaan INK (tinta) itu sendiri, menunjukan pengembangan dunia INK (tinta) dengan konsep artistik baru sejak Dinasti Song, Yuan, Ming dan Qing. Untuk mengeksplorasi hal baru dalam hidup, ia cermat mengekspresikan dalam lukisan tradisional, dan integrasi bentuk lukisan kontemporer untuk membangun Bahasa INK yang unik.

    Sebagai pendiri dan pengelola Yun Artified Community Art Center, Yince Djuwija, dengan semangat menjelaskan bahwa proses kreatif Guo Peng akan memberikan inspirasi dan referensi menarik bagi para pemerhati seni dan juga  pelajar. Tidak hanya itu pameran ini juga diharapkan dapat membuka cakrawala baru, dan memberikan kontribusi bagi penciptaan seni di Asia Tenggara. Khususnya dapat memberikan inspirasi dan menambah vitalitas di dunia seni dibawah kesuraman epidemi.

    Lukisan Guo Peng.
    Salah satu lukisan karya Guo Peng.(Foto: Pelopor/Yun Artified Community Art Center).

    Sosok seniman Guo Peng

    Lahir di Kota Pi Zhou, Provinsi Jiang Su, Cina, pada 1980 Guo Peng lulus pada tahun 2004 dari sekolah School of Fine Arts Nanjing Normal University. Pada tahun yang sama, ia pun mengadakan pameran kaligrafi dan pameran tunggal. Ia merupakan seniman dari Jiang su Imperial Art Academy pada tahun 2005, gaya artistiknya dipengaruhi oleh maestro seni China, Bada Shanren, Qi Baishi dan Lin Fengmian.

    2010 merupakan tahun titik balik bagi perjalanan seni Guo Peng. Saat ia mencoba menjauh dari interaksi sosial dan membiarkan dirinya cukup waktu untuk berfikir tentang iman, kehidupan dan seni dalam keadaan dan pikiran yang lebih tenang. Sejak itu, ia mulai memperhatikan gaya lukisan yang berbeda di Asia Tenggara. Memadukan gaya asli Indonesia dengan impresionisme Barat, Ekspresionisme abstrak dan seni kontemporer, visinya mulai meluas dan pemikiran artistiknya menjadi lebih aktif.

    Ia sangat memperhatikan karya dari seniman Asia tenggara, yaitu lukisan dari seniman Chen Wan-His, Cheong Soo Pieng, ia juga mengamati hasil karya affandi, seniman kontemporer Zhou Chunya, Cai Guo-Qiang, Xu Bing, pelukis China di Perancis seperti Zao Wou-ki, Chu The-Chun dan pelukis Jepang Yayoi Kusama.

    Tentunya kita tidak akan melihat kemiripan karya-karya tersebut dalam karya Guo Peng, namun terkadang ia merasa melihat keanehan muncul dalam sapuan kuasnya yang belum pernah ia temui sebelumnya.

    Ketika ia memutuskan untuk berhenti mengajar seni pada tahun 2021, ternyata momen ini menjadi sebuah transformasi besar bagi dirinya karena disaat itu pula Yun Artified Community Art Center merencanakan untuk mengadakan pameran lukisan tinta China dan akhirnya mengajak Guo Peng.[]

  • Pameran Seni Rupa Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum

    peloporberita.com/ | Jakarta – Tumurun Private Museum bekerja sama dengan S.Sudjojono Center menyelenggarakan pameran seni rupa mahakarya S.Sudjojono, dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan ke-76 RI, yang berjudul Mukti Negeriku! Perjuangan Sultan Agung Melalui Goresan S.Sudjojono, yang akan berlangsung dari 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022, berlokasi di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang membuka pameran ini dan dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, dan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid. Pameran ini dikuratori oleh Santy Saptari.

    Pameran ini menampilkan salah satu reproduksi mahakarya S. Sudjojono yaitu, lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” (1973), koleksi Museum Sejarah Jakarta, dan juga 38 (tiga puluh delapan) sketsa yang dibuat Sudjojono dalam mempersiapkan pembuatan lukisan tersebut, yang merupakan koleksi Tumurun Private Museum. Ini pertama kalinya seluruh  sketsa tersebut dipamerkan secara lengkap di Indonesia.

    Sejarah lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” ini cukup istimewa. Lukisan ini dipesan khusus oleh Ali Sadikin yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta kepada Sudjojono dalam rangka peresmian Museum Sejarah Jakarta pada tahun 1974.

    Tumurun Private Museum

    Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo, berlangsung pada 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

    Sudjojono melakukan riset selama tiga bulan di Belanda untuk mendapatkan data-data historis yang akurat mengenai sejarah peristiwa tersebut, dan menuangkan hasil risetnya tersebut ke dalam sketsa-sketsa yang dibuatnya. Sketsa-sketsa tersebut disertai  catatan-catatan Sudjojono secara mendetil mengenai berbagai hal sehubungan dengan peristiwa bersejarah tersebut.

    Sudjojono juga harus membangun studio khusus untuk dapat menampung lukisan berukuran 3×10 Meter dan merampungkan lukisan ini selama 7 (tujuh) bulan. Dari segi keunikan tema yang historis realistis, kesulitan teknis dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset dan menyelesaikan lukisan ini, tidak bisa dipungkiri pentingnya nilai dari lukisan ini.

    Pameran ini serta berbagai kajian di dalamnya sekaligus merupakan salah satu upaya S.Sudjojono Center beserta keluarga Rose Pandanwangi Sudjojono serta Tumurun Private Museum dalam mendukung usaha Museum Sejarah Jakarta yang dipelopori oleh Sri Kusumawati, S.S., M.Si. dan Esti Utami, S.S. dalam mengupayakan agar lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” dan sketsa-sketsanya dapat terdaftar menjadi Cagar Budaya Nasional.

    Sudjojono (1913-1986) sendiri bukanlah sosok yang asing lagi dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Seniman handal dan pemikir ulung, yang melalui karya-karya dan pemikirannya membantu membentuk seni rupa yang beridentitas Indonesia.

    Tumurun Private Museum
    Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo, berlangsung pada 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

    Penyelenggaraan pameran ini merupakan salah satu wujud tujuan utama Tumurun Private Museum dalam menjalankan visi dan misi dalam bidang edukasi kepada masyarakat secara luas terutama mengenai seni, baik seni klasik maupun kontemporer. Dengan diselenggarakannya pameran ini diharapkan agar para seniman, pencinta seni, pelajar dan masyarakat umum dapat lebih mengenal  sosok Sudjojono, karya-karya dan pemikirannya, riset yang dilakukan dan proses pembuatan  karya tersebut.

    Melalui pameran ini, Tumurun Private Museum dan S.Sudjojono Center sangat mengharapkan  masyarakat dapat belajar lebih dekat mengenai sosok pejuang Sultan Agung dan  seorang pemimpin Mataram, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Kedua sosok penting yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia dan sejarah seni rupa Indonesia. Mereka memiliki karakter yang sama, yaitu visioner, pemberani dan cinta tanah air. Keduanya pun pejuang, walau perjuangan mereka dilakukan dalam bentuk yang berbeda, Sultan Agung melalui ekspansi untuk perjuangan kemerdekaan serta upaya perbaikan hidup masyarakatnya, sedangkan Sudjojono melalui kuas, karya-karya dan tulisan-tulisannya. Diharapkan pameran ini dapat memberikan inspirasi akan makna dan peran seni, perjuangan dan nasionalisme bangsa dan negara.

    Pameran ini juga diharapkan dapat menjadi momentum untuk membawa semua lapisan masyarakat mengenal seni dengan memberikan edukasi tentang siapa Sudjojono dan seberapa besar kontribusinya di dunia seni lukis modern di Indonesia lewat Lukisan Sultan Agung, selain juga dapat menjadi sebuah ajang untuk mengenal kota Solo lebih jauh melalui sejarah perjuangan Sultan Agung.

    Kasunanan Surakarta merupakan salah satu dari empat pecahan kerajaan Kesultanan Mataram, yang masih ada hingga hari ini, karenanya acara ini dapat dihayati  sebagai “Kembalinya Sultan Agung ke Solo”. Pameran ini diharapkan dapat menarik generasi yang lebih muda, milenial dan Gen Z  untuk memahami dan menerima serta menghargai nilai-nilai pejuangan dan seni dan kemudian mengilhami  pemikiran dan gaya masa kini mereka.[]

    Tumurun Private Museum
    Pameran Lukisan Mahakarya S.Sudjojono di Tumurun Private Museum, Surakarta, Solo, berlangsung pada 28 Agustus 2021 hingga 28 Februari 2022. (Foto: Pelopor/Tumurun Private Museum)

    Baca juga: Bertemu Masyarakat Gili Trawangan Bersama Bang Zul, Gubernur NTB yang Sederhana

    Baca juga: Sejarah Idul Adha, Kisah Nabi Ibrahim Mendapat Wahyu dari Allah SWT

  • Boogeyman, Sang Hantu Pemakan Anak Nakal

    peloporberita.com/ | Jakarta – Legenda Boogeyman diceritakan sejak beberapa abad yang lalu. Cerita Boogeyman, kerap dijadikan dongeng malam untuk menakuti anak-anak supaya mereka berkelakuan baik.  Boogeyman, dikenal dengan nama yang berbeda-beda di tiap Wilayah, seperti El Coco, Krampus, Old Hag dan Baba Yaga. 

    Boogeyman atau Bogieman, merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris “bogge” yang berarti hobgoblin, sebuah legenda yang berasal dari Skotlandia. Boogeyman dilaporkan, sudah muncul sejak tahun 1500-an. Namun, konsepnya sudah ada jauh sebelum masa itu. 

    Boogeyman juga kerap dihubungkan dengan kata “bugbear” yang dulu digunakan untuk menggambarkan goblin atau orang-orangan sawah yang konon suka memburu dan memakan anak kecil.

    Ilustrasi Boogeyman. (Foto: iStock)
    Ilustrasi Boogeyman. (Foto:Pelopor.id/ iStock)

    Konon hantu Boogeyman yang diceritakan di Amerika Serikat, sering hadir di tengah kegelapan, bersembunyi di lemari dan di bawah tempat tidur. Sedangkan di tempat lain seperti Eropa, Karibia, dan bagian dari India dan Asia, makhluk itu diyakini tidak hanya mengintai dan menakut-nakuti anak-anak, tetapi juga menculik dan membawa mereka dalam karung untuk dimakan bersama.

    Di Washington D.C, Boogeyman pernah dikaitkan dengan seseorang bernama Albert Fishwho. Pria kelahiran tahun 1870  itu, disebut-sebut sebagai salah satu pembunuh paling mengerikan hingga kini.

    Reputasi buruk Albert, ia dapatkan di usia 20 tahun lantaran menculik anak lelaki dan melecehkan mereka, termasuk memakannya. Kejahatannya terus berlanjut hingga pada 16 Januari 1936, pengadilan menjatuhkannya hukuman mati dengan kursi listrik.

    Sejak itulah, Manifestasi fisik Boogeyman berakhir namun mitos dan legendanya tetap melekat hingga kini. []

  • Viral Kisah Heni Tania Usia 19 Tahun Dinikahi Kombes Polisi

    peloporberita.com/ | Jakarta – Heni Tanita, wanita cantik kelahiran 30 Mei 1980, asal Pamekasan, Jawa Timur, sedang mendapat sorotan publik setelah menceritakan di akun Instagram pribadinya @henitania ketika dinikahi suaminya, Kombes Pol Slamet Riyadi, SH., S.IK., M.Si.

    Ia menulis seperti ini, 21 tahun yang lalu. Dinikahi seorang Kapolsek disaat umur saya masih 19 tahun. Start dari NOL. Merangkak dari bawah tanpa backup dari siapapun. Bertahan dan berjuang dalam karier dengan kemampuan seadanya. Pasrah dan tak pernah kesana kemari meminta minta naik jabatan, atau belas kasihan dari pimpinan.

     

    View this post on Instagram

     

    A post shared by Heni Tania (@henitania)

    Bagaimana kisah asmara Heni Tania dan Kombes Pol Slamet Riyadi mulai bersemi? 

    Setelah lulus Akpol tahun 1996, Slamet Riyadi ditugaskan di Jawa Timur, yang saat itu masih di tingkat polres. Ia bertemu dengan Heni pada awal 1997, yang sedang menjadi mayoret marching band di SMA-nya dan Slamet sebagai pembina marching band, perwakilan dari Polres. Setelah saling mengenal, dua sejoli ini pun memutuskan bertunangan pada 1998. 

    Heni sempat kuliah selama setahun, kemudian pada 1999, memutuskan berhenti karena satu dan berbagai hal. Hingga akhirnya pada tahun 2000, Heni Tania dan Slamet Riyadi menikah dengan menggunakan adat Jawa dan tradisi pedang pora. Mereka pun dikarunai dua puteri, bernama Rara Refli Nurdiani dan Febiana Aura Annisa.

    Baca juga: 17 Agustus, Polda Metro Jaya Targetkan Vaksinasi Semua Warga DKI

    Penampilan Heni yang tampak seumuran dengan kedua putrinya malah mendatangkan komentar miring. Heni sering dikira ibu tiri dari anak-anaknya, bahkan dia juga sering dikira istri muda suaminya. Heni juga menceritakan kepada detik.com bagaimana sang suami berkarier dari bawah hingga akhirnya jabatannya terus naik.

    Gaji pokok pertama yang diterimanya adalah sebesar Rp299.000. Setahun kemudian mulai naik jabatan dari Kapolsek ke Kasat Reskrim, yang berarti gaji dan tunjangan juga mulai naik, sehingga Heni mulai lanjut kuliah lagi di Universitas Surabaya mengambil jurusan ekonomi.

    Baca juga: Polri Tangkap Dua ABG Peretas Situs Sekretariat Kabinet RI

    Pengalaman yang paling berkesan bagi Heni adalah ketika menjadi ketua Bhayangkari, yang merupakan organisasi istri anggota Polri. Padahal, saat itu usianya masih 19 tahun, tapi ia harus membawahi anggota yang seumuran dengan ibunya sendiri.

    Heni juga pernah merambah dunia hiburan dengan membintangi sinetron dan punya grup musik Babydoll, tapi akhirnya berhenti karena tidak mendapat restu dari suaminya, Kombes Pol Slamet Riyadi. Saat ini, Heni fokus pada studi S2 di Universitas Indonesia, sekaligus menjadi pengusaha minimarket Alfamart dan Indomaret. []